PENANGANAN PERTAMA PADA KASUS KECELAKAAN

Senin, 5 Maret 2018 08:59:25 - Oleh : pkrs

STUDI BANDING PPK BLUD DI RSUD WATES

LAPORAN PELAKSANAAN SURVEI KEPUASAN MASYARAKAT DI RSUD WATES

SEMINAR "KARTINI TANGGUH JAMAN NOW"

DOWNLOAD ULANG APLIKASI PENDAFTARAN ONLINE

PENUHI KEBUTUHAN VITAMIN DAN MINERAL BAGI TUBUH

PENANGANAN PERTAMA PADA KASUS KECELAKAAN

 

         Dalam kehidupan sehari-hari, kejadian kecelakaan merupakan hal yang kerap sekali terjadi. Kecelakaan yang dimaksud bukan hanya kecelakaan dalam berlalu lintas yang melibatkan satu, dua, atau lebih pengendara, namun juga kejadian-kejadian yang dapat mengakibatkan kesakitan, kecacatan, bahkan kematian. Faktor kesalahan manusia dan kekuranghati-hatian adalah salah satu hal yang paling sering menyebabkan kasus kecelakaan tersebut terjadi.

         Untuk menghindari kematian dan kecacatan, penderita yang terluka parah memerlukan penilaian dan pengelolaan yang cepat dan tepat. Pengetahuan dan ketrampilan tentang penanganan penderita ini tidak hanya harus dikuasai oleh petugas kesehatan saja, namun juga masyarakat umum, sehingga apabila ditemukan kasus-kasus kecelakaan dapat melakukan tindakan penanganan yang cepat dan tepat sehingga tidak terjadi kesalahan yang justru memperparah keadaan dari penderita kecelakaan.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menangani kasus kecelakaan antara lain:

1. hatikan lingkungan serta lokasi kejadian, pastikan apakah keadaan masih berbahaya atau sudah aman untuk dilakukan tindakan penyelamatan. Hal ini perlu dilakukan supaya niat baik penolong tidak justru malah membahayakan penolong dan menambah jumlah korban.

2.       Respon

Cek respon penderita, apakah penderita sadar atau tidak. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memanggil korban, menepuk, maupun merangsang nyeri. Perhatikan apakah penderita membuka mata, bagaimana respon verbalnya (kata-kata), serta gerakan penderita.

3.       Airway

Perhatikan bagaimana keadaan jalan nafas (saluran nafas) penderita. Apakah penderita dimungkinkan tersedak atau saluran nafasnya tersumbat karena adanya lendir, darah, maupun lidah yang tertarik/ jatuh ke belakang. Ada beberapa cara untuk menjaga saluran nafas penderita agar tetap baik, mulai dari memposisikan leher, mengeluarkan benda asing, menyedot lendir maupun darah, hingga memasang alat bantu seperti pipa orofaring, pipa endotracheal, dll. Karena tindakan-tindakan tersebut banyak memanipulasi leher, maka harus diperhatikan untuk menjaga stabilitas tulang leher penderita. Pemasangan alat bantu untuk menjaga kepatenan saluran nafas harus dilakukan oleh petugas kesehatan yang telah terlatih dan mempunyai kewanangan untuk melakukan tindakan tersebut.

4.       Breathing

Perhatikan apakah penderita bernafas atau tidak, bagaimana kecepatan, suara, serta aroma nafasnya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mendekatkan pipi penolong ke muka penderita. Pada keadaan-keadaan tertentu, penderita memerlukan tambahan oksigen untuk meningkatkan keefektifan pernafasan penderita.

5.       Circulation

Perhatikan bagaimana detak jantung/ nadi penderita, pertahankan sirkulasi darah. Jika terjadi perdarahan, hentikan perdarahan serta kenali tanda-tanda syok yang dapat mengancam jiwa penderita. Apabila ditemukan tanda bahwa penderita mengalami syok, harus segera dilakukan penanganan dengan cara pemberian cairan yang harus dilakukan oleh petugas kesehatan yang berwenang.

6.       Disability

Perhatikan apakah ada kemungkinan penderita mengalami gangguan syaraf atau tidak. Hal ini terkait erat dengan tingkat kesadaran pasien.

7.       Environment atau Exposure

Lakukan pemeriksaan pada seluruh tubuh untuk mengetahui apakah ada luka maupun tanda-tanda kegawatdaruratan lain yang mungkin belum terlihat.


Penanganan penderita pada kasus kecelakaan harus dilakukan dengan cepat dan tetap namun tetap memperhatikan prinsip-prinsip keamanan, baik dari sisi penderita, lingkungan, maupun dari sisi penolong itu sendiri. Jangan sampai apa yang penolong lakukan justru malah memperparah keadaan penderita maupun membahayakan jiwa penolong dan menambah jumlah korban.

Untuk menambah kompetensi dan menyegarkan kembali pengetahuan dan ketrampilan dari petugas kesehatan, dalam rangka memperingati Hari Bakti RSUD Wates Ke-35, RSUD Wates bekerjasama dengan organisasi profesi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Komisariat RSUD Wates dan Pusbankes 118 Persi DIY mengadakan pelatihan Basic Trauma and Cardiac Life Support untuk perawat dan bidan yang dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2018 sampai dengan 4 Maret 2018. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan pelayanan terhadap masyarakat, terutama pada kasus kecelakaan dapat semakin baik, cepat, dan tepat, sehingga lebih banyak lagi jiwa yang dapat diselamatkan, baik dari kecacatan maupun dari kematian. (-pkrs rsud wates @februari 2018-)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

\

 

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak