Penyakit Jantung

Rabu, 9 Oktober 2019 10:09:29 - Oleh : PKMRS RSUD Wates

POLIKLINIK THT TUTUP PADA 23 - 26 OKTOBER 2019

HIDUP SEHAT, BEBAS KUMAN DENGAN CUCI TANGAN

Penyakit Jantung

TALKSHOW "TRESNANI JANTUNGKU"

POLIKLINIK MATA TUTUP PADA TANGGAL 26 - 28 SEPTEMBER 2019

Penyakit jantung dan pembuluh darah sampai saat ini dikenal sebagai penyebab kematian nomor satu di dunia. Penyakit jantung koroner menyumbang lebih dari 8 juta kematian di seluruh dunia. Selain menyebabkan angka kematian yang tinggi, penyakit jantung juga menyedot anggaran BPJS paling tinggi dengan tren yang semakin meningkat dari 4,4 triliun rupiah di tahun 2014, 6,9 triliun rupiah di tahun 2015, dan 7,4 triliun rupiah di tahun 2016.

 

Serangan jantung terjadi karena terbentuknya sumbatan mendadak pada pembuluh darah koroner yang memasok darah untuk keberlangsungan hidup otot jantung sehingga terjadilah kerusakan atau kematian sel otot jantung. Salah satu bentuk serangan jantung yang paling mematikan adalah infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-EST). Bentuk serangan jantung ini memerlukan penanganan reperfusi segera, yaitu suatu upaya membuat adanya lagi aliran pada pembuluh darah koroner jantung yang tersumbat tersebut. Reperfusi koroner ini dapat dilakukan dengan memberikan obat peluruh sumbatan darah, atau dikenakl dengan trombolisis, atau bisa dengan pemasangan ring segera, atau dikenal dengan nama intervensi koroner perkutan primer.

 

Keterlambatan penanganan reperfusi pada serangan jantung dapat disebabkan oleh faktor pasien (patient delay), seperti ketidaktahuan masyarakat tentang gejala serangan jantung, keengganan pasien dan/atau keluarga pasien dalam mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan atau pemilihan pengobatan secara alternatif, dan faktor sistem kesehatan di wilayah tersebut (system delay), seperti lamanya diagnosis ditegakkan di fasilitas kesehatan pertama, lamanya mendapatkan rumah sakit rujukan, persiapan merujuk dengan ambulan yang lama, dan lamanya proses di IGD rumah sakit rujukan. Keterlambatan reperfusi ini dapat menyebabkan luaran klinis yang tidak baik, hingga bisa menyebabkan kematian.

 

Melalui Tresnani JantungKU dalam rangka Hari Jantung Dunia yang jatuh pada tanggal 29 September 2019, kami berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang gejala serangan jantung dan pentingnya untuk segera mencari penanganan medis apabila dirasakan gejala serangan jantung. Hal ini penting untuk dilakukan untuk mengatasi keterlambatan penanganan reperfusi akibat faktor pasien. Disamping masalah serangan jantung, penanganan bantuan hidup dasar untuk awam juga diperkenalkan agar masyarakat awam dapat membantu menolong orang yang mengalami henti jantung mendadak dengan cara yang benar.

 

Tresnani JantungKU sendiri merupakan slogan asli buatan Kulon Progo dalam mengkampanyekan pencegahan penyakit jantung yang tersusun dalam singkatan TRESNANI yang memiliki kepanjangan Tensi ojo lali, Rokok ditinggalke, Eling nimbang lan cek kolesterol, Seneng sayur lan buah, Ngaso sing cukup, Ajeg olahraga, Ngibadan khusyuk, dan Ilangi stres.

 

Selain program Tresnani JantungKU, RSUD Wates bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kulon Progo juga meluncurkan Program STEMI Satu Pintu yang mensinergikan pemberi layanan kesehatan di puskesmas dan IGD rumah sakit se-Kulon Progo dengan RSUD Wates dalam memberikan penanganan serangan jantung IMA-EST sehingga dapat mengatasi keterlambatan reperfusi yang disebabkan oleh faktor sistem kesehatan. Dengan program ini, diharapkan reperfusi baik secara trombolisis maupun intervensi pemasangan ring dapat dilakukan secepat mungkin.

 

Dengan adanya Tresnani JantungKU dan STEMI Satu Pintu diharapkan angka kematian karena serangan jantung di Kulon Progo dapat menurun.

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak