Stop HIV-AIDs

Senin, 2 Desember 2019 11:26:36 - Oleh : PKRS RSUD Wates

POLIKLINIK BEDAH MULUT DAN ORTHOPEDI PADA 11-12 DESEMBER 2019 TUTUP

Seminar ISK RSUD Wates

Stop HIV-AIDs

POLIKLINIK GIGI DAN MULUT TUTUP PADA 2,5-7 DESEMBER 2019

POLIKLINIK THT TUTUP PADA 30 NOPEMBER 2019


HINDARI FAKTOR RISIKONYA, JANGAN KUCILKAN PENDERITANYA

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus penyebab AIDS yang mampu melemahkan sistem kekebalan atau perlindungan tubuh. Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan Kumpulan beberapa gejala akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. Seseorang yang telah terinfeksi virus HIV secara bertahap akan mengalami sekumpulan gejala penurunan sistem kekebalan tubuh.
Infeksi HIV melalui beberapa tahap, mulai dari masa jendela, HIV +, hingga AIDS. Masa jendela adalah masa antara masuknya virus HIV ke dalam tubuh hingga tubuh membentuk antibodi terhadap HIV (HIV +) dan dapat berlangsung selama 2 minggu - 6 bulan. Pada masa ini tes HIV masih negatif namun kandungan virus dalam tubuh sedang banyak-banyaknya sehingga cepat menularkan kepada orang lain. Masa HIV + merupakan saat dimana tubuh telah menghasilkan antibodi terhadap HIV dan hasil pemeriksaan darah telah menunjukkan hasil HIV +. Masa ini dapat berlangsung hingga 20 tahun dan penderitanya masih tampak sehat, tidak muncul gejala, dan dapat beraktifitas secara normal seperti biasa. Tahap terakhir dari penyakit ini adalah munculnya beberapa gejala dari penurunan sistem kekebalan tubuh (AIDS). Beberapa gejala yang bisa muncul adalah adanya diare kronis lebih dari 1 bulan, penurunan berat badan lebih dari 10% tanpa sebab, demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan, batuk berkepanjangan, kelainan kulit (herpes berulang), infeksi jamur pada mulut, dan kerongkongan, serta pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh.
Di masyrakat, penyakit ini sering dianggap sebagai aib karena penyebarannya yang identik dengan perilaku menyimpang, seperti seks bebas dan penggunaan narkoba. Hal ini menimbulkan stigma sehingga penderitanya dikucilkan dari pergaulan. Pemikiran ini tentu menimbulkan konflik sosial tersendiri bagi mereka yang terjangkit HIV/AIDS. Beberapa penderita HIV/AIDS mungkin tidak melakukan perilaku menyimpang namun hanya sebagai korban ketidaktahuan sehingga tanpa sengaja terpapar oleh HIV.
Perlu kita ingat bahwa HIV hanya dapat menular melalui hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi HIV tanpa perlindungan, pemakaian jarum suntik bekas pakai yang sudah tercemar HIV dan dipakai secara bergantian, tranfusi darah atau produk darah yang sudah tercemar HIV, serta penularan pada bayi dari ibu yang terinfeksi HIV melalui proses kehamilan, melahirkan, dan menyusui. Penyakit ini tidak ditularkan melalui kontak fisik yang terjadi karena kita hidup serumah, makan bersama, berjabat tangan, berenang, berpelukan, berciuman, maupun karena gigitan nyamuk/serangga. Maka dari itu, hal yang perlu diperhatikan dalam mencegah penularan HIV adalah dengan cara menghindari faktor risiko penularan, bukan dengan mengucilkan penderitanya.
Untuk mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi HIV adalah dengan cara melakukan pemeriksaan darah. Apabila seseorang dicurigai menderita/terjangkit HIV/AIDS karena berperilaku yang berisiko terhadap penularan HIV/AIDS, maka sebaiknya orang tersebut melakukan konsultasi pada petugas kesehatan dan melakukan pemeriksaan darah. Tak perlu khawatir, konsultasi kesehatan dan hasil pemeriksaan darah ini dijamin kerahasiaannya. Hal ini perlu untuk dilakukan karena semakin dini status HIV seseorang diketahui, maka akan semakin mempermudah perencanaan pengobatannya. Selain itu, pengobatan yang tepat dapat menghambat perkembangan HIV/AIDS, mencegah penularan dari ibu ke bayi yang dikandung dan dilahirkan, serta mencegah penularan HIV yang semakin meluas.
Momentum Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember semoga dapat mengingatkan kita akan pentingnya kepedulian terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) maupun Anak Dengan HIV/AIDS (ADHA). Dukungan keluarga, teman, maupun masyarakat sangat penting bagi mereka untuk tetap bertahan melawan penyakitnya sehingga tetap produktif dalam menjalani kehidupannya. Meskipun memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan, namun penularan HIV tidak semudah penularan penyakit menular lainnya. Maka dari itu marilah kita bersama-sama melawan HIV/AIDS dengan cara yang tepat, yaitu dengan cara menghindari faktor risikonya bukan mengucilkan penderitanya. (_pkrs_)

 

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak