TUBERCULOSIS DAN PENANGANANNYA

TUBERCULOSIS DAN PENANGANANNYA

1.  APA ITU TUBERCULOSIS

          Penyakit Tuberculosis atau sering disebut sebagai Penyakit TBC atau Penyakit TB merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan baik. Bakteri penyebab penyakit TB ini ditemukan oleh seorang ilmuwan bernama dr Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882. Maka dari itu, setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai hari TB sedunia. Selain untuk mengenang jasa beliau, peringatan hari TB sedunia ini juga dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang TB serta upaya-upaya mengurangi penyebaran wabah penyakit tersebut.

2.  GEJALA

         Umumnya, penyakit TB menyerang organ paru-paru. Namun begitu, penyakit ini juga dapat menyerang organ lain seperti kelenjar getah bening, selaput otak, tulang, perut, dll yang sering disebut sebagai TB ekstra paru. Gejala utama yang sering timbul ketika seseorang terjangkit TB antara lain: batuk terus menerus selama 2 minggu atau lebih. Selain itu, bisa juga timbul gejala lain seperti: adanya dahak yang kadang bercampur darah, nafsu makan menurun, berkeringat di malam hari meski tanpa melakukan aktifitas, demam meriang yang berkepanjangan (lebih dari 1 bulan), sesak nafas disertai nyeri dada, dan berat badan menurun. Seseorang yang kontak erat dengan pasien TB dan memiliki gejala-gejala tersebut dapat dicurigai juga menderita TB.

3. PENEGAKAN DIAGNOSA

         Penegakkan diagnosa TB dapat ditentukan dari gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan bakteriologi (pemeriksaan dahak maupun cairan dari organ yang dicurigai terjangkit TB ekstra paru), pemeriksaan radiologi (rontgen), dan pemeriksaan penunjang lainnya. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosa TB yang biasa dilakukan adalah dengan pemeriksaan BTA. Dulu, pemeriksaan ini dilakukan sebanyak tiga kali, namun saat ini pemeriksaan ini cukup dilakukan hanya sebanyak dua kali saja, yaitu dahak sewaktu dan dahak pagi. Dahak sewaktu adalah dahak yang dikeluarkan pada saat pasien datang pertama kali untuk pemeriksaan atau siang setelah pemeriksaan dahak pagi. Sedangkan dahak pagi adalah dahak yang dikeluarkan pada saat bangun tidur sebelum makan dan minum. Petugas kesehatan yang bertugas di fasilitas kesehatan yang melayani penanangan pasien TB akan memberikan petunjuk bagaimana cara mengeluarkan dahak yang baik dan benar sehingga akurat untuk dilakukan pemeriksaan.

Selain dengan pemeriksan BTA, saat ini telah dikembangkan pemeriksaan dahak yang lebih canggih dengan sensitifitas yang lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan BTA mikroskopis, yaitu pemeriksaan dengan menggunakan Gene Xpert. Pemeriksaan Gene Xpert merupakan suatu tes molekuler berbasis PCR, yaitu tes amplifikasi asam nukleat secara automatis sebagai sarana deteksi TB dan uji kepekaan untuk Rifampisin (salah satu obat TB). Dengan kata lain, pemeriksaan dengan alat ini langsung meneliti dan mengurai DNA bakteri, sehingga hasil pemeriksaannya lebih akurat jika dibandingkan dengan metode pemeriksaan konvensional yang menggunakan mikroskop. Pemeriksaan ini juga lebih cepat karena hasilnya dapat diketahui hanya dalam waktu 1 - 2 jam saja. Dengan alat ini, pasien TB awal yang jumlah BTAnya tidak terdeteksi dengan pemeriksaan BTA mikroskopik dan pasien TB yang kebal terhadap Rifampisin akan bisa terdeteksi serta mempercepat penanganan dan pengobatan. Saat ini, pemeriksaan Gene Xpert sudah dapat dilakukan di Instalasi Laboratorium RSUD Wates dan belum dapat dilakukan di puskesmas.

4. PENGOBATAN

           Setelah diagnosa TB ditegakkan, penderita akan mendapatkan pengobatan obat anti TB (OAT) kombinasi selama beberapa bulan yang harus dilakukan secara rutin dan tidak boleh terputus. Selain untuk mempercepat proses penyembuhan penyakit, hal ini juga dilakukan untuk mencegah penyakit berkembang menjadi TB kebal obat atau TB Multi Drugs Resistance (TB MDR). Ketika penderita TB belum dinyatakan sembuh (gagal) maupun mengalami kekambuhan padahal sudah menjalani pengobatan TB sesuai dengan resep dan aturan minum obat yang benar, penderita tersebut dapat dicurigai menderita TB MDR yaitu TB yang tidak mempan (kebal/ resisten) dengan berbagai macam obat. Penderita TB MDR ini harus kembali menjalani pengobatan dari awal dengan kombinasi obat yang lebih banyak dalam jangka waktu 18 - 24 bulan.

5. PENGAWAS MINUM OBAT

           Untuk memastikan bahwa OAT dikonsumsi secara rutin dan tidak terputus, perlu ditunjuk seorang Pengawas Minum Obat (PMO). Seorang Pengawas Minum Obat ini bisa dari petugas kesehatan, keluarga, maupun orang terdekat penderita yang terpercaya (kader kesehatan/ tokoh masyarakat) dan harus ditentukan sejak awal sebelum pengobatan TB dimulai. Seorang PMO harus bersedia secara sukarela membantu pasien TB sampai sembuh selama menjalani pengobatan dengan obat anti TB (OAT) dan menjaga kerahasiaan penderita. Selain untuk mengawasi penderita TB dalam mengkonsumsi OAT, adanya PMO ini sangat penting untuk memberikan motivasi dan semangat kepada penderita untuk tetap menjalani pengobatan, mengenali efek samping yang timbul ketika penderita mengkonsumsi OAT serta merujuk penderita ketika efek samping yang timbul semakin berat, dan mengingatkan penderita untuk melakukan pemeriksaan dahak sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Mengingat begitu pentingnya peran PMO, maka seseorang yang telah ditunjuk sebagai PMO harus ikut datang ke fasilitas layanan kesehatan (poliklinik) untuk mendapatkan penjelasan tentang penyakit serta manajemen penanganan dan pengobatan penderita sebelum pengobatan dimulai.

6. PENULARAN DAN PENCEGAHANNYA

           Penyakit TB dapat menular melalui udara dan percikan air ludah yang keluar ketika seorang penderita TB aktif batuk, bersin, dan bicara. Maka dari itu, sangat penting bagi penderita TB untuk menggunakan masker serta melakukan etika batuk dengan baik dan benar untuk mencegah penularan penyakit kepada orang lain. Selain itu, menciptakan suasana rumah hingga setiap ruangannya mendapatkan ventilasi yang baik dan mendapatkan sinar matahari langsung dengan cara membuka jendela rumah lebar-lebar juga harus dilakukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit TB.

7. PELAYANAN TB DI RSUD WATES

       Sebagai rumah sakit rujukan yang ada di Kabupaten Kulon Progo, RSUD Wates juga melayani penanganan penderita TB, mulai dari penjaringan supect (orang yang dicurigai menderita TB), pemeriksaan untuk penegakan diagnosa dengan menggunakan Gene Xpert, hingga pengobatan dengan OAT. Bagi penderita TB tanpa komplikasi, pengobatan setelah dilakukan penegakkan diagnosa dapat diteruskan ke puskesmas terdekat dari rumah penderita. Namun bagi penderita TB yang juga mengalami komplikasi, penanganan penyakit TB dapat dilayani di Pojok DOTS yang terletak di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Wates. Para penderita TB akan ditangani oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam dengan alur pelayanan cepat (Fast Track). Di awal proses pendaftaran, penderita TB dapat langsung memberikan keterangan tentang penyakit TB yang sedang dideritanya kepada petugas sehingga dapat mempercepat proses pendaftaran, pemeriksaan, hingga layanan pengobatan. Dengan adanya layanan Fast Track ini diharapkan dapat mengurangi potensi penularan TB kepada sesama pasien maupun pengunjung RSUD Wates. (-pkrs rsud wates@maret 2018-)