Gizi Optimal Untuk Generasi Milenial

Indonesia saat ini mempunyai masalah triple burden, yaitu stunting dan wasting, obesitas dan kekurangan zat gizi mikro seperti anemia. Terdapat 3 diantara 10 balita stunting, 1 diantara 10 balita wasting, 1 diantara 10 balita obesitas dan 1 diantara 2 ibu hamil anemia serta 3 diantara 10 remaja anemia (Riskesdas 2013 - 2018). 

Arah pembangunan kesehatan saat ini dititik beratkan pada upaya promotif preventif yang dinilai dapat memberikan dampak kesehatan yang lebih luas dan lebih efisien dari sisi ekonomi. Pengembangan sumberdaya manusia dalam pembangunan kesehatan yang berkelanjutan mutlak diperlukan, yang salah satu komponen utamanya adaIah melalui perbaikan gizi masyarakat khususnya pada remaja. Permasalahan kesehatan dan gizi pada remaja akan mempengaruhi  kualitas hidup saat usia produktif dan akan berdampak pada kualitas sumber daya generasi penerus bangsa.

Tema Peringatan Hari Gizi Nasional tahun 2020 ini adalah Gizi Optimal Untuk generasi Milenial. Menurut wikipedia, “milenial” yang dikenal juga sebagai Generasi Y, gen Y atau Generasi langgas adalah kelompok demografi setelah generasi X, Gen X. Milenial kadang disebut sebagai Echo Boomers karena adanya booming (peningkatan besar), tingkat kelahiran mulai awal tahun 1980 an dan 1990 an hingga awal tahun 2000 an. Berdasarkan definisi tersebut, yang termasuk dalam genarasi milenial pada tahun 2020 ini adalah remaja mulai usia 20 tahun sampai 30 tahun dan masih berlanjut sampai dengan usia produktif 40 tahun.

Gaya hidup generasi milenial saat ini cenderung tidak sehat. Sebagai generasi yang produktif maka remaja ini harus memiliki pengetahuan mengenai hidup sehat agar dapat melahirkan generasi yang unggul. Saat ini masih banyak remaja yang tidak memperhatikan gizinya. Pola konsumsi remaja saat ini rata-rata masih kurang terarah. Banyak remaja putri yang menjalani diet tidak sehat karena terobsesi memiliki tubuh langsing, sehingga mereka lupa mengonsumsi gizi yang seimbang, kata Ka subdit Informasi dan Komunikasi Kesehatan Pembangunan Manusia, Kemenkominfo, Marroli J.Indarto di Jakarta pada 27/08/2019.

Indonesia membutuhkan remaja yang produktif, kreatif, serta kritis demi kemajuan bangsa itu sendiri, dan remaja dapat mencapai produktivitas dan kreativitas yang maksimal serta mempunyai pemikiran yang kritis, apabila mereka sehat. Remaja sehat bukan hanya dilihat dari fisik, tetapi juga kognitif, psikologis, dan sosial. Perkembangan saat remaja, sangat menentukan kualitas seseorang untuk menjadi individu dewasa. Persoalan remaja tidak dapat diselesaikan oleh bidang Kesehatan saja, namun perlu dukungan dan kontribusi lintas program, lintas sektor, profesi dan semua mitra pembangunan.

  Kebutuhan gizi pada remaja meliputi : energi, protein, lemak, karbohidrat, zat besi, zink, calsium, serta zat gizi mikro lainnya. Masalah gizi dan kesehatan pada remaja, antara lain : gangguan makan, obesitas, anemia, makan tidak teratur, kehamilan, anoreksia nervosa. Upaya yang bisa dilakukan remaja untuk mencapai status gizi yang optimal adalah dengan menerapkan pola makan serta pola hidup sesuai dengan pedoman gizi seimbang yaitu :

  1. Syukuri dan nikmati aneka ragam makanan, dengan cara mengkonsumsi lima kelompok pangan setiap kali makan terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran ,buah-buahan dan minuman, berpedoman “Isi Piringku”. Kemudian disyukuri dengan cara berdoa sebelum dan sesudah makan, dan nikmatnya makan ditentukan oleh kesesuaian kombinasi aneka ragam bumbu, cara pengolahan, penyajian makanan dan suasana makan, dengan tidak tergesa-gesa, sehingga makanan dapat dikunyah, dan dicerna tubuh dengan baik.
  2. Banyak makan sayur dan buah-buahan, sebanyak 250 gram sayur (2,5 porsi) dan 150 gram buah (setara 3 buah pisang atau 1,5 potong pepaya)
  3. Biasakan mengkonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi, yaitu 2-3 porsi lauk hewani (setara 2-4 potong daging/ikan/ayam) dan protein nabati 2-3 porsi (setara 4-8 potong tempe ukuran sedang).
  4. Biasakan mengkonsumsi aneka ragam makanan pokok, dengan cara mengkonsumsi lebih dari satu jenis makanan pokok dalam sehari atau sekali makan
  5. Batasi konsumsi pangan manis, asin, berlemak, dengan batasan konsumsi gula tidak lebih dari 50 gram sehari (4 sdm), minyak tidak lebih dari 67 gram (5 sdm), dan garam tidak lebih dari 1 sendok teh sehari.
  6. Biasakan sarapan, yang bemanfaat membekali tubuh dengan zat gizi (15-30% kebutuhan) untuk berpikir, bekerja, dan melakukan aktifitas secara optimal.
  7. Biasakan minum air putih yang cukup dan aman.
  8. Biasakan membaca label pada kemasan pangan, meliputi isi, jenis, komposisi zat gizi, tanggal kadaluarsa, dan keterangan penting lainnya.
  9. Cuci tangan pakai sabun dengan air bersih mengalir
  10. Lakukan aktifitas fisik yang cukup dan pertahankan berat badan normal, dengan cara olah raga 30 menit setiap hari atau 3-5 hari (kali) dalam seminggu.

Dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional ke-60 tahun 2020 ini RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo ingin ikut berperan serta dalam meningkatkan perbaikan gizi dan derajat kesehatan melalui peningkatan pelayanan gizi bagi remaja sebagai generasi milenial dalam bentuk :

  1. Konseling gizi bagi remaja di poli gizi RSUD wates setiap hari Senin - Kamis mulai pukul 10.00 WIB bagi karyawati RSUD Wates maupun pasien dari luar.
  2. Penyuluhan Gizi Optimal Untuk Generasi Milenial, bagi pasien rawat jalan serta pengunjung rumah sakit pada hari Selasa, 28 Januari 2020 pukul 09.00 - 10.00 WIB.
  3. Konseling Gizi pada pasien remaja yang rawat inap di RSUD Wates.
  4. Kegiatan-kegiatan lain dalam rangkaian Hari Ulang Tahun RSUD Wates pada bulan Februari 2020.

Momentum Hari Gizi Nasional ini, dapat digunakan untuk menggalang kepedulian dan meningkatkan komitmen dari berbagai pihak untuk bersama mengajak remaja sebagai generasi milenial untuk sadar gizi dalam upaya mencegah lahirnya generasi yang stunting serta mencegah remaja dari resiko mengalami Penyakit Tidak Menular (PTM) antara lain melalui edukasi gizi seimbang dan suplementasi Tablet Tambah Darah pada ibu hamil dan remaja putri. Hal ini dapat mendorong percepatan pencapaian RPJMN tahun 2024 bidang kesehatan yaitu percepatan penurunan stunting dan wasting. (-Sri Handayani @2020)